
BANDUNG — Dua hari sebelum seleksi internal Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Tim Re.Mara mengambil keputusan besar; mengganti konsep produk menjadi tas multifungsi berbahan limbah denim. Proposal pun harus dirombak dalam waktu singkat. Keputusan itu menjadi salah satu titik awal perjalanan mereka hingga meraih Juara I kategori usaha tahap awal bidang Industri Kreatif, Seni, dan Budaya pada KMI Expo 2026 di Universitas Jenderal Soedirman, 28 September–1 Oktober 2026.
Tim Re.Mara terdiri atas Siti Fadilah Maulani, Aster Raudhothul Jannah, dan Niha Latifah dari Program Studi Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial, FPIPS, serta Faza Sutera Alfatny dari Program Studi Pendidikan Tata Busana, FPTI. Di bawah bimbingan Dr. Dina Siti Logayah, S.Pd., M.Pd., mereka menyatukan kemampuan lintas program studi untuk mengembangkan produk fesyen berkelanjutan.
Gagasan yang lolos seleksi internal UPI itu kemudian memperoleh pendanaan Program Pembinaan Wirausaha Mahasiswa (P2MW) dari Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sain, dan Teknologi (Kemdiktisaintek). Dukungan tersebut membuka kesempatan bagi tim untuk mengubah rancangan menjadi produk dan membangun usaha. Namun, prosesnya tidak langsung mulus. Desain berulang kali dievaluasi; sejumlah bagian ditambahkan, diubah, atau dihilangkan agar tas lebih fungsional dan sesuai kebutuhan pengguna.
Dari proses itu lahirlah Swara Karsa, tas three in one yang dapat digunakan sebagai ransel, tas selempang, dan tote bag. Produk ini memanfaatkan denim sisa produksi, dipadukan dengan motif angklung sebagai identitas budaya lokal. Re.Mara juga mengembangkan tote bag, bag charm, lanyard, dan mini pouch, serta mulai memasarkan produknya melalui media sosial, marketplace, bazar, dan pameran.

Keberhasilan lolos ke KMI Expo membawa tantangan baru. Di tengah waktu produksi yang terbatas, tim harus menyiapkan stok, stan, dan presentasi. Pekerjaan menyulam serta menyiapkan produk bahkan berlanjut selama perjalanan menuju lokasi dan di hotel menjelang kegiatan. Bagi tim, prioritas saat itu bukan semata-mata menjadi juara, melainkan memastikan produk mereka layak diperkenalkan di panggung nasional.
Rasa ragu sempat muncul menjelang presentasi, terlebih setelah melihat kesiapan peserta lain. Pembimbing dan tim pendamping dari Direktorat Kemahasiswaan dan Alumni UPI serta dari Fakultas kemudian mengingatkan bahwa presentasi bukan sekadar ujian, melainkan kesempatan menceritakan pekerjaan yang telah mereka jalani. Penguasaan atas pengembangan produk, strategi pemasaran, dan pengalaman membangun usaha akhirnya menjadi bekal untuk menjawab pertanyaan juri. Perjalanan itu berujung pada pengumuman Re.Mara sebagai Juara I.
“Semua rasa ragu, rasa capek, rasa takut, dan proses panjang yang kami lalui ternyata worth it. Perjalanan ini membuat kami semakin menghargai setiap proses dan orang-orang yang hadir di dalamnya,” ungkap tim Re.Mara dalam catatan perjalanannya.
Bagi Re.Mara, gelar juara bukan akhir perjalanan. Pengalaman mengolah limbah denim menjadi produk bernilai, bekerja lintas bidang, dan menghadapi penilaian nasional menjadi bekal untuk melanjutkan pengembangan usaha. Dari ide yang berubah menjelang seleksi, mereka belajar bahwa inovasi tumbuh melalui keberanian mencoba dan kesediaan terus memperbaiki karya. Di akhir ceritanya, Tim Re.Mara mengungkapkan rasa syukur atas capaian juara pada kompetisi bergengsi ini. Tim juga mengucapkan rasa terima kasih yang setinggi-tingginya kepada Rektor UPI, Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Bisnis, serta Direktorat Kemahasiswaan dan Alumni, FPIPS dan FPTI, serta para coach yang telah mendukung dan memfasilitasi kepada Tim Re.Mara, mulai dari kesempatan mengikuti seleksi internal dan nasional, coaching, evaluasi dan pengembangan presentasi produk, Penilaian Kemajuan Pelaksanaan P2MW, hingga pelaksanaan KMI Expo.
