
Muhammad Zaky Dhiaul Haq, mahasiswa Ilmu Pendidikan Agama Islam Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), berhasil terpilih sebagai salah satu delegasi dalam kegiatan pengabdian masyarakat Ekspedisi Musala Kita 2025. Zaky, yang mengambil peran sebagai divisi acara dalam tim pelaksana, berhasil mengungguli hampir 40 mahasiswa lain dari 18 universitas terkemuka di Indonesia. Proses seleksi yang ketat ini menunjukkan kompetensi dan dedikasinya, terutama mengingat mayoritas peserta berasal dari universitas-universitas ternama seperti Universitas Padjadjaran (Unpad) dan Institut Teknologi Bandung (ITB).
Ekspedisi ini berlangsung dari 18 hingga 31 Agustus 2025 di Desa Matotonan, Kecamatan Siberut Selatan, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Provinsi Sumatera Barat. Program ini diinisiasi oleh komunitas Musala Kita di bawah naungan Baktinusa Great Edunesia Dompet Dhuafa. Berbagai pihak juga mendukung kegiatan ini, termasuk PT Kereta Api Indonesia (PT KAI), Paragon Corp, Ikatan Orangtua Mahasiswa ITB, Rumah Amal Salman, Rumah Zakat, Inisiatif Zakat Indonesia (IZI), dan Qur’an Best.
Medan Terjal dan Pembelajaran Budaya
Perjalanan menuju Desa Matotonan tidaklah mudah. Desa yang terletak sekitar 162 km dari Kota Padang ini hanya bisa dijangkau melalui jalur yang menantang. Tim ekspedisi harus menggunakan tiga jenis transportasi secara bergantian: kapal feri selama 12 jam, perjalanan darat melewati jalan berlumpur menggunakan mobil pick-up selama 2 jam, dan dilanjutkan dengan menyusuri sungai menggunakan sampan kecil selama 2 jam. Medan yang sulit ini mencerminkan tantangan yang dihadapi masyarakat Matotonan dalam akses ke pendidikan, kesehatan, dan fasilitas dasar lainnya.
Selama di desa, tim ekspeditor berinteraksi langsung dengan masyarakat melalui agenda live-in, di mana mereka menginap di rumah kepala desa, mandi di sungai, dan berbaur dengan warga. Pengalaman ini memberikan pemahaman mendalam tentang kondisi sosial ekonomi masyarakat yang memiliki taraf hidup rendah dan mengandalkan hasil hutan sebagai sumber penghasilan.
Yang paling berkesan bagi tim adalah kuatnya semangat gotong royong dan nilai-nilai spiritual masyarakat setempat. Masyarakat rutin melakukan kerja bakti membersihkan masjid setiap minggu dan bahkan rela mendayung sampan selama dua hari penuh hanya untuk menghadiri acara-acara keagamaan di Muara Siberut. Kehadiran Islam di desa ini terbukti membawa dampak positif, terbukti dari banyaknya generasi muda Muslim yang melanjutkan pendidikan ke luar daerah.
Tiga Fokus Utama Ekspedisi

Ekspedisi ini memiliki tiga fokus utama untuk membantu masyarakat Matotonan.
Peduli Musala,Tim merenovasi Musala Jihad Makoromimit yang kondisinya kurang memadai. Mereka melakukan pengecatan ulang, memperbaiki lantai yang rusak, dan membangun pagar untuk mencegah gangguan hewan ternak. Selain itu, tim juga menyediakan karpet, microphone wireless, Al-Qur’an, mukena, dan sajadah kepada warga.
Sosialisasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), Kegiatan ini bertujuan untuk menekan angka penyakit menular seperti diare, yang menjadi penyakit terbanyak di Kecamatan Siberut Selatan berdasarkan data BPS tahun 2023. Sosialisasi pertama diberikan kepada 50 ibu-ibu dan dilanjutkan dengan pembagian 50 paket sembako. Sosialisasi kedua diadakan di SDN 02 Matotonan, di mana tim mengajarkan cara mencuci tangan dan menggosok gigi yang benar kepada seluruh siswa dan membagikan 207 set sikat dan pasta gigi.

Sosialisasi Kampus, Program ini bertujuan untuk meningkatkan motivasi siswa di Siberut Selatan untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Tim ekspedisi mengunjungi tiga sekolah, yaitu SMK Negeri 02 Kepulauan Mentawai, MAS Islamic Center Syaikh Sholih Ar Rajihi, dan SMAN 1 Siberut Selatan. Mereka berbagi informasi tentang beasiswa sebagai dukungan bagi siswa yang terkendala biaya. Keberhasilan Muhammad Zaky dalam seleksi dan kontribusinya dalam ekspedisi ini menunjukkan komitmen UPI dalam menghasilkan pemimpin muda yang berkarakter dan berdedikasi tinggi untuk membangun Indonesia, terutama di daerah-daerah terpencil.
